Penyakit Hepatitis: Obat, Penyebab, Gejala, Dll

Pertambahan virus hepatitis C tidak bisa diikuti oleh jumlah antibodi (anti-HCV) yang diproduksi sistem imun melawan infeksi HCV. Reaksi sistem imun yang kesulitan melawan infeksi HCV ini lantas menyebabkan peradangan pada hati.


Hepatitis D dan E


Meskipun dua virus hepatitis lainnya yaitu HDV (virus hepatitis D) dan HEV (virus hepatitis E) tak banyak ditemukan kasusnya di Indonesia, penyebarannya tetap perlu diwaspadai.


HDV atau yang disebut dengan virus delta merupakan jenis virus hepatitis yang paling jarang ditemukan, tetapi juga paling berbahaya di antara virus hepatitis lainnya.


HDV memerlukan HBV untuk dapat berkembang biak sehingga hanya bisa ditemukan pada penderita hepatitis B.


HEV memiliki karakteristik yang kurang lebih sama dengan HAV yaitu termasuk jenis virus RNA yang ditularkan melalui fecal oral atau masuk melalui mulut.


Hepatitis non-virus


Peradangan hati juga bisa disebabkan oleh zat-zat beracun, kandungan obat-obatan, dan bahan kimia berbahaya yang mampu menghancurkan sel-sel di dalam hati atau disebut hepatosit.


Paparan dari zat beracun ini dapat menyebabkan 70 - 85 persen kerusakan hepatosit dalam hati. Terlebih penyakit hepatitis non-virus dapat terjadi akibat penggunaan suplemen diet yang memengaruhi fungsi kerja hati.


Hepatitis alkoholik


Hepatitis alkoholik merupakan peradangan yang terjadi di dalam hati yang disebabkan oleh konsumsi alkohol selama bertahun-tahun. Namun orang yang memiliki ketergantungan terhadap alkohol tidak lantas mengidap penyakit ini.


Dalam beberapa kasus, orang yang mengonsumsi alkohol dalam batas normal juga bisa terkena penyakit ini.


Penderita penyakit ini biasa mengalami gejala kehilangan nafsu makan akibat konsumsi alkohol yang berlebihan, rasa sakit perut bagian atas, hingga mual dan muntah-muntah.


Tak jarang, penderita juga kerap mudah kehilangan fokus atau mengalami perubahan tingkah laku selama mengalami penyakit ini. Hal ini diakibatkan oleh meningkatnya kadar toksin di dalam tubuh.


Selain itu, kandungan alkohol juga dapat melemahkan kerja hati sehingga membuat Anda lebih rentan terhadap infeksi virus hepatitis.


Bahkan konsumsi alkohol bisa menimbulkan beberapa penyakit hati lainnya, seperti perlemakan hati alkoholik atau suatu kondisi di mana terlalu banyak penumpukan lemak di hati atau sirosis yaitu kerusakan hati kronis.


Hepatitis autoimun


Hepatitis autoimun adalah kondisi ketika sistem imun menyerang sel-sel hati. Tidak hanya peradangan, kerusakan sel hati ini juga dapat menyebabkan kegagala fungsi hati bila tidak segera ditangani.


Penyebab utama dari masalah liver ini belum diketahui pasti. Namun, penyakit ini merupakan kelainan genetik yang berkembang akibat faktor lingkungan.


Gejalanya pun umumnya sama dengan gejala lainnya. Akan tetapi, gangguan kesehatan ini dapat dikendalikan dengan minum obat-obatan untuk menekan kerja sistem imun yang terlalu reaktif.


Hepatitis autoimun dibagi menjadi dua tipe, yaitu autoimun tipe 1 yang lebih umum dan autoimun tipe 2. Selain itu, penderita penyakit ini juga dapat mengalami penyakit autoimun lainnya, meliputi:


penyakit Celiac,
rheumatoid arthritis, dan
kolitis ulseratif.


Apa faktor yang dapat meningkatkan risiko mengalami kondisi ini?

Penyakit hepatitis dapat dipicu oleh sejumlah faktor risiko yaitu sebagai berikut.


- Berbagi jarum dengan orang lain, baik untuk penggunaan obat maupun tato atau tindik.
- Menderita HIV karena dapat menurunkan sistem kekebalan tubuh.
Berhubungan seks tanpa kondom.
- Penggunaan obat yang dapat merusak hati, seperti acetaminophen dan methotrexate.
Berbagi alat makan dengan penderita hepatitis A dan E.
- Pemakaian sumber air dan makanan yang terkontaminasi.
- Melakukan prosedur medis, seperti transfusi darah atau kemoterapi.
- Penularan dari ibu ke anak.


Komplikasi

Apa saja komplikasi dari hepatitis?

Komplikasi hepatitis lebih rentan terjadi pada pasien hepatitis B dan C. Hal ini juga lebih sering terjadi ketika infeksi HBV berlangsung dalam jangka waktu yang lama atau termasuk infeksi kronis.


Berikut ini beberapa komplikasi yang muncul akibat gangguan fungsi hati ini.


Fibrosis


Tahap awal dari kerusakan hati adalah fibrosis, yaitu jaringan hati yang mengeras. Bila dibiarkan, fibrosis akan berkembang menjadi sirosis.


Kondisi ini memerlukan waktu 20 - 30 tahun untuk berkembang dan menghalangi aliran darah ke hati (sirosis).


Sirosis


Peradangan hati yang terjadi akibat infeksi virus hepatitis bisa menyebabkan luka yang merusak fungsi hati secara jangka panjang. Sirosis yang ditandai dengan munculnya luka pada hati menyebabkan hati tidak lagi berfungsi secara normal.


Menurut American College of Gastroenterology, sekitar 20% penderita hepatitis C kronis akan mengalami sirosis. Begitu sirosis terjadi, sekitar 50% pasien akan mengalami komplikasi yang mengancam nyawa dalam 5 - 10 tahun berikutnya.


Sampai ini belum ada obat yang bisa menyembuhkan penyakit ini. Transplantasi hati menjadi satu-satunya pilihan untuk pulih.


Kanker hati


Kanker hati adalah salah satu komplikasi yang paling rentan terjadi pada pasien hepatitis. Bila dibiarkan, kanker hati dapat menyebabkan gejala yang berat.


Itu sebabnya, dokter akan menganjurkan pemeriksaan USG setiap 6 hingga 12 bulan untuk menunjukkan bila ada tumor yang terbentuk. Semakin cepat ditemukan, pengobatan kanker hati membuka peluang kesembuhan yang lebih besar.


Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama